Kelompok Ki Lurah Semar Badranaya
Kelompok ini terdiri Semar, Gareng,
Petruk, dan Bagong (Sunda: Cepot). Mereka
menggambarkan kelompok punakawan yang
jujur, sederhana, tulus, berbuat sesuatu tanpa
pamrih, tetapi memiliki pengetahuan yang sangat
luas, cerdik, dan mata batinnya sangat tajam. Ki
Lurah Semar, khususnya, memiliki hati yang
“nyegoro” atau seluas samudra serta kewaskitaan
dan kapramanan-nya sedalam samudra. Hanya
satria sejati yang akan menjadi asuhan Ki Lurah
Semar. Semar hakekatnya sebagai manusia
setengah dewa, yang bertugas mengemban/
momong para kesatria sejati.
Ki Lurah Semar disebut pula Begawan
Ismaya atau Hyang Ismaya, karena eksistensinya
yang teramat misterius sebagai putra Sang
Hyang Tunggal umpama dewa mangejawantah.
Sedangkan julukan Ismaya artinya tidak wujud
secara wadag/fisik, tetapi yang ada dalam
keadaan samar/semar. Dalam uthak-athik-gathuk
secara Jawa, Ki Semar dapat diartikan guru sejati
(sukma sejati), yang ada dalam jati diri kita. Guru
sejati merupakan hakekat Zat tertinggi yang
terdapat dalam badan kita. Maka bukanlah hal
yang muskil bila hakekat guru sejati yang
disimbolkan dalam wujud Ki Lurah Semar,
memiliki kemampuan sabda pendita ratu,
ludahnya adalah ludah api (idu geni). Apa yang
diucap guru sejati menjadi sangat bertuah, karena
ucapannya adalah kehendak Tuhan. Para kesatria
yang diasuh oleh Ki Lurah Semar sangat
beruntung karena negaranya akan menjadi adil
makmur, gamah ripah, murah sandang pangan,
tenteram, selalu terhindar dari musibah.
Tugas punakawan dimulai sejak
kepemimpinan Prabu Herjuna Sasrabahu di
negeri Maespati, Prabu Ramawijaya di negeri
Pancawati, Raden Sakutrem satria Plasajenar,
Raden Arjuna Wiwaha satria dari Madukara,
Raden Abimanyu satria dari Plangkawati, dan
Prabu Parikesit di negeri Ngastina. Ki Lurah Semar
selalu dituakan dan dipanggil sebagai kakang,
karena dituakan dalam arti kiasan yakni ilmu
spiritualnya sangat tinggi, sakti mandraguna,
berpengalaman luas dalam menghadapi pahit
getirnya kehidupan. Bahkan para Dewa pun
memanggilnya dengan sebutan “kakang”.
Kelompok punakawan ini bertugas :
1. Menemani (mengabdi) para bendhara
(bos) nya yang memiliki karakter luhur
budi pekertinya. Tugas punakawan adalah
sebagai “pembantu” atau abdi sekaligus
“pembimbing”. Tugasnya berlangsung
dari masa ke masa.
2. Dalam cerita pewayangan, kelompok ini
lebih sebagai penasehat spiritual,
pamomong, kadang berperan pula
sebagai teman bercengkerama, penghibur
di kala susah.
3. Dalam percengkeramaannya yang
bergaya guyon parikena atau saran,
usulan dan kritikan melalui cara-cara yang
halus, dikemas dalam bentuk kejenakaan
kata dan kalimat. Namun di dalamnya
selalu terkandung makna yang tersirat
berbagai saran dan usulan, dan sebagai
pepeling akan sikap selalu eling dan
waspadha yang harus dijalankan secara
teguh oleh bendharanya yang jumeneng
sebagai kesatria besar.
4. Pada kesempatan tertentu punakawan
dapat berperan sebagai penghibur selagi
sang bendhara mengalami kesedihan.
5. Pada intinya, Ki Lurah Semar dkk bertugas
untuk mengajak para kesatria asuhannya
untuk selalu melakukan kebaikan atau
kareping rahsa (nafsu al mutmainah).
Dalam terminologi Islam barangkali
sepadan dengan istilah amr ma’ruf.
Adapun watak kesatria adalah: halus, luhur
budi pekerti, sabar, tulus, gemar menolong, siaga
dan waspada, serta bijaksana.
Mangenal Lebih Dekat Budaya Klasik dan Kultur Cirebon
Sabtu, 28 Januari 2012
Punakawan Semar
KEPEMIMPINAN
PUNAKAWAN : Semar-
Gareng-Petruk-Bagong
CONTOH LEADERSHIP PUNAKAWAN
ABDI KINASIH KESATRIA PENDHAWA LIMA
KI LURAH SEMAR BADRANAYA, NALA
GARENG,
PETRUK KANTHONG BOLONG DAN KI LURAH
BAGONG
“Tanggap ing sasmita dan Limpat Pasang ing
Grahita, dan Cakra-Manggilingan”
“Pinangka mrih hamemayu hayuning bawana”
“Puna” atau “pana” dalam terminologi
Jawa artinya memahami, terang, jelas, cermat,
mengerti, cerdik dalam mencermati atau
mengamati makna hakekat di balik kejadian-
peristiwa alam dan kejadian dalam kehidupan
manusia. Sedangkan kawan berarti pula pamong
atau teman. Jadi punakawan mempunyai makna
yang menggambarkan seseorang yang menjadi
teman, yang mempunyai kemampuan
mencermati, menganalisa, dan mencerna segala
fenomena dan kejadian alam serta peristiwa
dalam kehidupan manusia. Punakawan dapat
pula diartikan seorang pengasuh, pembimbing
yang memiliki kecerdasan fikir, ketajaman batin,
kecerdikan akal-budi, wawasannya luas, sikapnya
bijaksana, dan arif dalam segala ilmu
pengetahuan. Ucapannya dapat dipercaya, antara
perkataan dan tindakannya sama, tidaklah
bertentangan. Khasanah budaya Jawa
menyebutnya sebagai “tanggap ing sasmita, lan
limpat pasang ing grahita”. Dalam istilah
pewayangan terdapat makna sinonim dengan
apa yang disebut wulucumbu yakni rambut yang
tumbuh pada jempol kaki. Keseluruhan
gambaran karakter pribadi Ki Lurah Semar
tersebut berguna dalam upaya melestarikan alam
semesta, dan menciptakan kemakmuran serta
kesejahteraan di bumi pertiwi.
Dalam cerita pewayangan Jawa,
punakawan tersebut dibagi menjadi dua
kelompok yang masing-masing memiliki peranan
yang sama sebagai penasehat spiritual dan politik,
namun masing-masing mengasuh tokoh yang
karakternya saling kontradiksi.
PUNAKAWAN : Semar-
Gareng-Petruk-Bagong
CONTOH LEADERSHIP PUNAKAWAN
ABDI KINASIH KESATRIA PENDHAWA LIMA
KI LURAH SEMAR BADRANAYA, NALA
GARENG,
PETRUK KANTHONG BOLONG DAN KI LURAH
BAGONG
“Tanggap ing sasmita dan Limpat Pasang ing
Grahita, dan Cakra-Manggilingan”
“Pinangka mrih hamemayu hayuning bawana”
“Puna” atau “pana” dalam terminologi
Jawa artinya memahami, terang, jelas, cermat,
mengerti, cerdik dalam mencermati atau
mengamati makna hakekat di balik kejadian-
peristiwa alam dan kejadian dalam kehidupan
manusia. Sedangkan kawan berarti pula pamong
atau teman. Jadi punakawan mempunyai makna
yang menggambarkan seseorang yang menjadi
teman, yang mempunyai kemampuan
mencermati, menganalisa, dan mencerna segala
fenomena dan kejadian alam serta peristiwa
dalam kehidupan manusia. Punakawan dapat
pula diartikan seorang pengasuh, pembimbing
yang memiliki kecerdasan fikir, ketajaman batin,
kecerdikan akal-budi, wawasannya luas, sikapnya
bijaksana, dan arif dalam segala ilmu
pengetahuan. Ucapannya dapat dipercaya, antara
perkataan dan tindakannya sama, tidaklah
bertentangan. Khasanah budaya Jawa
menyebutnya sebagai “tanggap ing sasmita, lan
limpat pasang ing grahita”. Dalam istilah
pewayangan terdapat makna sinonim dengan
apa yang disebut wulucumbu yakni rambut yang
tumbuh pada jempol kaki. Keseluruhan
gambaran karakter pribadi Ki Lurah Semar
tersebut berguna dalam upaya melestarikan alam
semesta, dan menciptakan kemakmuran serta
kesejahteraan di bumi pertiwi.
Dalam cerita pewayangan Jawa,
punakawan tersebut dibagi menjadi dua
kelompok yang masing-masing memiliki peranan
yang sama sebagai penasehat spiritual dan politik,
namun masing-masing mengasuh tokoh yang
karakternya saling kontradiksi.
musafir kasmaran
aku bagaikan musafir yang kasmaran dengan
putri kerajaan.
mungkin lebih tepat jika aku mengatakan, aku
pengelana yang bodoh.
karena aku berharap lebih tanpa menyadari siapa
diriku.
karena aku berharap bisa menjadi pendamping
sang putri.
dan aku berharap bisa mencuri hati sang putri
dengan nyanyian dibawah istananya.
bodoh, bodoh sekali...
suaraku tak kan pernah sampai kehatinya.
tembok-tembok setinggi bukit menghalangi
suaraku.
jikalau terdengar, suaraku tak seindah nyanyian
malaikat.
suaraku parau karena terlalu lelah berkelana...
aku bagaikan musafir yang kasmaran dengan
putri kerajaan.
aku duduk memandangi tembok yang
memisahkan dunia kita.
begitu besar perbedaan ini, hingga rasa yang
kumiliki hanya membuat dadaku sakit.
baju yang melekat, tas kosong, dan gitar tua
adalah satu-satunya hal yang kumiliki di dunia ini.
apalagi yang bisa kutawarkan untukmu kecuali rasa
hangat yang ada didadaku.
aku bagaikan musafir yang kasmaran dengan
seorang putri kerajaan.
dan kini aku kehilangan akal sehatku.
aku memutuskan untuk mendaki tembok itu.
melewati beberapa penjaga, dan berlari menyusuri
lorong-lorong ingin menemukan dimana
ruanganmu berada.
aku harus menemukanmu secepatnya sebelum
penjaga menangkap dan menghukumku.
lalu....
aku menemukanmu...
kau berada di dalam ruangan yang sangat terang.
mataku sempat sakit karena gemerlap kemewahan
yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
di sana kau duduk memandangi lukisan seorang
pangeran dari kerajaan lain.
aku segera menyadari, bahwa dia adalah
kekasihmu yang jauh.
seorang pangeran...bukan seorang pengelana
miskin...
dan belum sempat aku menyatakan "betapa aku
mengagumimu".
para pengawal telah menyeret aku keluar dari
istana...
membuang aku di pinggiran kota dan memukuli
aku sejadi-jadinya.
aku bagaikan musafir yang kasmaran dengan
seorang putri kerajaan.
dan bukan hanya sekedar pengelana dalam sepi...
aku ternyata hanya pemuda yang tidak tahu diri...
putri kerajaan.
mungkin lebih tepat jika aku mengatakan, aku
pengelana yang bodoh.
karena aku berharap lebih tanpa menyadari siapa
diriku.
karena aku berharap bisa menjadi pendamping
sang putri.
dan aku berharap bisa mencuri hati sang putri
dengan nyanyian dibawah istananya.
bodoh, bodoh sekali...
suaraku tak kan pernah sampai kehatinya.
tembok-tembok setinggi bukit menghalangi
suaraku.
jikalau terdengar, suaraku tak seindah nyanyian
malaikat.
suaraku parau karena terlalu lelah berkelana...
aku bagaikan musafir yang kasmaran dengan
putri kerajaan.
aku duduk memandangi tembok yang
memisahkan dunia kita.
begitu besar perbedaan ini, hingga rasa yang
kumiliki hanya membuat dadaku sakit.
baju yang melekat, tas kosong, dan gitar tua
adalah satu-satunya hal yang kumiliki di dunia ini.
apalagi yang bisa kutawarkan untukmu kecuali rasa
hangat yang ada didadaku.
aku bagaikan musafir yang kasmaran dengan
seorang putri kerajaan.
dan kini aku kehilangan akal sehatku.
aku memutuskan untuk mendaki tembok itu.
melewati beberapa penjaga, dan berlari menyusuri
lorong-lorong ingin menemukan dimana
ruanganmu berada.
aku harus menemukanmu secepatnya sebelum
penjaga menangkap dan menghukumku.
lalu....
aku menemukanmu...
kau berada di dalam ruangan yang sangat terang.
mataku sempat sakit karena gemerlap kemewahan
yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
di sana kau duduk memandangi lukisan seorang
pangeran dari kerajaan lain.
aku segera menyadari, bahwa dia adalah
kekasihmu yang jauh.
seorang pangeran...bukan seorang pengelana
miskin...
dan belum sempat aku menyatakan "betapa aku
mengagumimu".
para pengawal telah menyeret aku keluar dari
istana...
membuang aku di pinggiran kota dan memukuli
aku sejadi-jadinya.
aku bagaikan musafir yang kasmaran dengan
seorang putri kerajaan.
dan bukan hanya sekedar pengelana dalam sepi...
aku ternyata hanya pemuda yang tidak tahu diri...
Selasa, 17 Januari 2012
air
PERJALANAN ARUS AIR (MOTIVASI)
Sekumpulan Kecil Arus Air Turun dari Ketinggian
Gunung,
Jauh di Atas Sana melalui Sejumlah Desa dan
Hutan,
hingga ia Mencapai Padang Pasir.
Arus Kecil itu lalu Berpikir,
"Aku telah Melewati Begitu Banyak Rintangan.
Tentunya Tidak Ada Masalah buat Aku Melintasi
Padang Pasir ini!"
Namun ketika ia memutuskan untuk Memulai
Perjalanannya,
ia Menemukan Dirinya Menghilang secara Perlahan-
lahan ke dalam Padang Pasir.
Setelah mencoba berkali-kali,
ia Masih Tetap Menemukan Dirinya yang
Menghilang dan Merasa Sangat Sedih.
"Mungkin Ini Nasibku!
Aku Tidak Memiliki Nasib untuk Mencapai Lautan
Luas seperti Dalam Legenda,"
ia Menggerutu dan Mengutuk Dirinya.
Pada waktu itu,
terdengar Suara yang Dalam,
"Jika Awan Dapat Melewati Padang Pasir, Tentunya
Sungai Juga Bisa."
Kedengarannya seperti Suara PADANG PASIR.
Tidak begitu yakin,
ARUS KECIL menjawab,
"Itu karena Awan Dapat Terbang, tapi Aku Tidak
Bisa."
"Itu Karena Kamu MELEKAT pada Dirimu.
Jika kamu Benar-benar Hendak
MELEPASKANNNYA,
dan biarkan Dirimu Menguap, ia nya akan
Menyeberang,
dan kamu akan Mencapai Tujuanmu,"
kata Padang Pasir dengan Suara yang Dalam.
Arus Kecil Tidak Pernah Mendengar hal seperti ini.
"Melepaskan Diriku Sekarang dan Menghilang ke
dalam Bentuk Awan?
Tidak! Tidak!"
Ia Tidak Dapat Menerima Gagasan demikian.
Lagipula,
ia tidak pernah mengalami hal demikian
sebelumnya.
Bukankah itu merupakan penghancuran diri untuk
menyerah pada
bentuk yang ia miliki sekarang?
"Bagaimana aku tahu bahwa saran ini benar
adanya?" tanya arus kecil.
"Awan Dapat Membawa Dirinya Menyeberangi
Padang Pasir dan
Melepaskannya sebagai Hujan di Tempat yang
Tepat.
Hujan akan Membentuk Sungai Lagi untuk
Meneruskan Perjalanannya,"
demikian jawaban dari Padang Pasir dengan Sabar.
"Akankah aku masih seperti diriku sekarang?"
tanya arus kecil.
"Ya, dan tidak.
Apakah kamu sebagai Sungai atau Uap yang Tak
Kasat Mata,
HAKEKAT DIRI Kamu Tidak Akan Pernah Berubah.
Kamu Melekat Pada Kenyataan bahwa Kamu adalah
SUNGAI Karena Kamu Tidak Mengetahui Hakekat
Diri Kamu," jawab Padang Pasir.
Jauh di dalam sanubarinya,
arus kecil teringat bahwa sebelum ia menjadi
sungai,
kemungkinan juga ia adalah awan yang membawa
dirinya
hingga ke atas gunung,
di mana ia berubah menjadi hujan dan jatuh ke
tanah dan
menjadi dirinya sekarang ini.
Akhirnya Arus Kecil Mengumpulkan Keberaniannya
dan
Berlari ke dalam Rangkulan Awan yang
Membawanya ke
PERJALANAN HIDUP Berikutnya.
Sekumpulan Kecil Arus Air Turun dari Ketinggian
Gunung,
Jauh di Atas Sana melalui Sejumlah Desa dan
Hutan,
hingga ia Mencapai Padang Pasir.
Arus Kecil itu lalu Berpikir,
"Aku telah Melewati Begitu Banyak Rintangan.
Tentunya Tidak Ada Masalah buat Aku Melintasi
Padang Pasir ini!"
Namun ketika ia memutuskan untuk Memulai
Perjalanannya,
ia Menemukan Dirinya Menghilang secara Perlahan-
lahan ke dalam Padang Pasir.
Setelah mencoba berkali-kali,
ia Masih Tetap Menemukan Dirinya yang
Menghilang dan Merasa Sangat Sedih.
"Mungkin Ini Nasibku!
Aku Tidak Memiliki Nasib untuk Mencapai Lautan
Luas seperti Dalam Legenda,"
ia Menggerutu dan Mengutuk Dirinya.
Pada waktu itu,
terdengar Suara yang Dalam,
"Jika Awan Dapat Melewati Padang Pasir, Tentunya
Sungai Juga Bisa."
Kedengarannya seperti Suara PADANG PASIR.
Tidak begitu yakin,
ARUS KECIL menjawab,
"Itu karena Awan Dapat Terbang, tapi Aku Tidak
Bisa."
"Itu Karena Kamu MELEKAT pada Dirimu.
Jika kamu Benar-benar Hendak
MELEPASKANNNYA,
dan biarkan Dirimu Menguap, ia nya akan
Menyeberang,
dan kamu akan Mencapai Tujuanmu,"
kata Padang Pasir dengan Suara yang Dalam.
Arus Kecil Tidak Pernah Mendengar hal seperti ini.
"Melepaskan Diriku Sekarang dan Menghilang ke
dalam Bentuk Awan?
Tidak! Tidak!"
Ia Tidak Dapat Menerima Gagasan demikian.
Lagipula,
ia tidak pernah mengalami hal demikian
sebelumnya.
Bukankah itu merupakan penghancuran diri untuk
menyerah pada
bentuk yang ia miliki sekarang?
"Bagaimana aku tahu bahwa saran ini benar
adanya?" tanya arus kecil.
"Awan Dapat Membawa Dirinya Menyeberangi
Padang Pasir dan
Melepaskannya sebagai Hujan di Tempat yang
Tepat.
Hujan akan Membentuk Sungai Lagi untuk
Meneruskan Perjalanannya,"
demikian jawaban dari Padang Pasir dengan Sabar.
"Akankah aku masih seperti diriku sekarang?"
tanya arus kecil.
"Ya, dan tidak.
Apakah kamu sebagai Sungai atau Uap yang Tak
Kasat Mata,
HAKEKAT DIRI Kamu Tidak Akan Pernah Berubah.
Kamu Melekat Pada Kenyataan bahwa Kamu adalah
SUNGAI Karena Kamu Tidak Mengetahui Hakekat
Diri Kamu," jawab Padang Pasir.
Jauh di dalam sanubarinya,
arus kecil teringat bahwa sebelum ia menjadi
sungai,
kemungkinan juga ia adalah awan yang membawa
dirinya
hingga ke atas gunung,
di mana ia berubah menjadi hujan dan jatuh ke
tanah dan
menjadi dirinya sekarang ini.
Akhirnya Arus Kecil Mengumpulkan Keberaniannya
dan
Berlari ke dalam Rangkulan Awan yang
Membawanya ke
PERJALANAN HIDUP Berikutnya.
Kamis, 12 Januari 2012
tentang kecewa
Setiap orang pasti pernah merasakanya. Namun,
kebanyakan dari kita selalu dan selalu merasa
sedih, kesal dan tidak menerima atas apa yang
menimpa diri kita. Tak jarang pula, kita yang tidak
lagi bisa menggunakan iman, logika, dan
kesantunan. Dalam sekejab, semua hilang atas
nama rasa sakit.
Ikhwah fillah yang dirahmati Allah,...
Renungkanlah bahwa ini adalah dunia, yang tidak
akan mungkin ada sesuatu yang sempurna di
dalamnya. Pun demikian dengan sebuah
kesempurnaan dari ego dan permintaan kita.
Pastilah tidak akan mungkin semuanya tercapai
dan terealisasi seluruhnya.
Dan atau mungkin rasa kecewa itu datangnya dari
kesalahan yang kita pilih dalam meletakkan harapan
yang terlalu banyak kepada makhluk. Padahal
dengan begitu, ada hal lain yang seharusnya
menjadi keharusan bagi kita untuk
mempersiapkannya, yaitu kekecewaan.
Betapa tidak, ibarat menyandarkan diri pada
sebuah banyangan tembok, yang ada adalah jatuh
dan terjungkalnya kita, karena bayangan adalah
sesuatu yang semu. Satu pertanyaan yang
kemudian muncul, kita posisikan Allah di mana?
Mungkin hari ini kita telah menyebut asma-Nya
yang amat Agung, namun mengapa kita lupa akan
kekuasaanNya? Tidak seharusnya kuasa Allah kita
nafikan, karena Dia-lah yang menciptakan kita. Dia
pasti lebih paham dengan apa yang telah
diciptakan-Nya Allah pasti punya rencana lain yang
jauh lebih baik dibandingkan keinginan dan
harapan-harapan kita.
Dan bahwa menjadi seorang muslim adalah
sebuah anugrah, yaitu ketika kita di berikan rahmat,
kita bersyukur, dan ketika kita di uji kita di ajarkan
untuk bersabar. Kedua hal itu semuanya adalah
bermuara pada sebuah kemuliaan.
Dan bahwa Allah tidak akan menguji kita, di luar
kemampuan kita. Itulah firman Allah yang tertulis
dalam Al Quran yang mulia. Maka jika kita
memang yakin dengan kekuasaan Allah, marilah
dengan penuh kemaafan dan kemakluman, kita
belajar mengobati luka kecewa itu, dan mendoakan
semoga hal yang menjadikan kita kecewa, di lain
hari bisa memuliakan kita, sebagai imbalan dari
pikiran positif kita terhadap Allah.
Kecewa memang kadang menghadirkan
kekosongan dalam jiwa kita. Dan proses
pengosongan memanglah sangat menyakitkan.
Tetapi, bukankah tanpa pengosongan tidak akan
ada pengisian?
Kita kecewa bukan berarti Allah tidak sayang, akan
tetapi pada hakikatnya Allah sudah menyiapkan
ganti yang lebih berharga dibanding keinginan
yang kita idam-idamkan dan tidak terwujud. Dan
satu- satunya yang harus kita lakukan, adalah
percaya. Semoga kita termasuk pemilik hati dan
laku yang selalu mengedepankan tentang
berprasangka baik kepada Allah, yang maha
menata takdir kita, dengan sedemikian cantik. Insya
Allah.
kebanyakan dari kita selalu dan selalu merasa
sedih, kesal dan tidak menerima atas apa yang
menimpa diri kita. Tak jarang pula, kita yang tidak
lagi bisa menggunakan iman, logika, dan
kesantunan. Dalam sekejab, semua hilang atas
nama rasa sakit.
Ikhwah fillah yang dirahmati Allah,...
Renungkanlah bahwa ini adalah dunia, yang tidak
akan mungkin ada sesuatu yang sempurna di
dalamnya. Pun demikian dengan sebuah
kesempurnaan dari ego dan permintaan kita.
Pastilah tidak akan mungkin semuanya tercapai
dan terealisasi seluruhnya.
Dan atau mungkin rasa kecewa itu datangnya dari
kesalahan yang kita pilih dalam meletakkan harapan
yang terlalu banyak kepada makhluk. Padahal
dengan begitu, ada hal lain yang seharusnya
menjadi keharusan bagi kita untuk
mempersiapkannya, yaitu kekecewaan.
Betapa tidak, ibarat menyandarkan diri pada
sebuah banyangan tembok, yang ada adalah jatuh
dan terjungkalnya kita, karena bayangan adalah
sesuatu yang semu. Satu pertanyaan yang
kemudian muncul, kita posisikan Allah di mana?
Mungkin hari ini kita telah menyebut asma-Nya
yang amat Agung, namun mengapa kita lupa akan
kekuasaanNya? Tidak seharusnya kuasa Allah kita
nafikan, karena Dia-lah yang menciptakan kita. Dia
pasti lebih paham dengan apa yang telah
diciptakan-Nya Allah pasti punya rencana lain yang
jauh lebih baik dibandingkan keinginan dan
harapan-harapan kita.
Dan bahwa menjadi seorang muslim adalah
sebuah anugrah, yaitu ketika kita di berikan rahmat,
kita bersyukur, dan ketika kita di uji kita di ajarkan
untuk bersabar. Kedua hal itu semuanya adalah
bermuara pada sebuah kemuliaan.
Dan bahwa Allah tidak akan menguji kita, di luar
kemampuan kita. Itulah firman Allah yang tertulis
dalam Al Quran yang mulia. Maka jika kita
memang yakin dengan kekuasaan Allah, marilah
dengan penuh kemaafan dan kemakluman, kita
belajar mengobati luka kecewa itu, dan mendoakan
semoga hal yang menjadikan kita kecewa, di lain
hari bisa memuliakan kita, sebagai imbalan dari
pikiran positif kita terhadap Allah.
Kecewa memang kadang menghadirkan
kekosongan dalam jiwa kita. Dan proses
pengosongan memanglah sangat menyakitkan.
Tetapi, bukankah tanpa pengosongan tidak akan
ada pengisian?
Kita kecewa bukan berarti Allah tidak sayang, akan
tetapi pada hakikatnya Allah sudah menyiapkan
ganti yang lebih berharga dibanding keinginan
yang kita idam-idamkan dan tidak terwujud. Dan
satu- satunya yang harus kita lakukan, adalah
percaya. Semoga kita termasuk pemilik hati dan
laku yang selalu mengedepankan tentang
berprasangka baik kepada Allah, yang maha
menata takdir kita, dengan sedemikian cantik. Insya
Allah.
Rabu, 11 Januari 2012
malaikat dan setan
Segala
sesuatu
mempunyai
dua kutub
berbeda.
Ada kanan
ada kiri. Ada
bawah ada
atas, ada
pintar ada
pula bodoh,
ada baik ada
buruk, ada
malaikat dan
ada pula
setan. Begitu
juga manusia, dalam dirinya manusia punya dua
sisi tersebut. Terkadang malaikat yang lebih
dominan, namun di lain waktu setanlah yang
menguasai.
Saat kita melihat seseorang dengan pakaian
compang-camping mengais sampah untuk
mencari nasi, hati ini tergugah untuk memberinya
makan makanan yang layak seperti yang kita
makan. Degan memberinya sepiring nasi
sepertinya kita sudah menjadi malaikat yang
telah menjadi penolong orang lain.
Di sisi lain saat ada seseorang berbuat kesalahan,
kita sulit sekali memaafkannya, menampakkan
muka angkuh di hadapannya, menyiratkan
pandangan kebencian terhadapnya, bahkan
menyapanyapun tidak mau. Tetapi saat itu kita
tidak merasa diri ini setan bukan?
Rasulullah mengajarkan “saat tangan kanan
memberi maka tangan kiri tidak boleh tahu”.
Tetapi apa yang kita lakukan? Saat tangan kanan
memberi, dengan sengaja ia mengundang
tangan kiri untuk mendampinginya. Apakah
manusia merasa dirinya setan dalam situasi
seperti ini?
Ada orang merasa dirinya besar jika ia mampu
pergi ke Tanah Suci. Berdoa dan didoakan
menjadi haji yang mabrur. Menunaikan haji dan
pulang membawa air zam-zam dan pernak-
perniknya, mengajak kumpul para tetangga dan
mengeluarkan banyak harta untuk disedekahkan.
Namun, ia berbangga dengan gelar hajinya, tidak
boleh orang memanggilnya “Bapak Fulan” tetapi
harus “Bapak Haji Fulan”. Orang-orang dibuat
bingung akan kehadiran Fulan ini. Haruskah ia
dipuji seperti malaikat ataukan dicaci seperti setan?
Manusia selalu merasa dirinya malaikat tetapi tidak
pernah merasa dirinya setan meskipun ia seorang
pembunuh, koruptor, perampok, ataupun
perampas hak-hak orang kecil. Topeng malaikat
terlalu kuat melekat dalam hati manusia sehingga
menyamarkan jatidirinya. Orang-orang tidak
dapat lagi membedakan yang mana malaikat dan
yang mana setan. Mereka memuji-muji sang
setan dan mencaci sang malaikat. Mengikuti yang
salah dan mengabaikan kebenaran sehingga
membentuk topeng-topeng malaikat baru dalam
jiwa-jiwanya.
Kita tidak pernah menyadari yang mana setan
dan yang mana malaikat dalam diri ini. Namun
yang harus kita sadari adalah mereka ada dalam
jiwa kita. Manusia itu sendirilah yang
menghidupkan salah satu dari mereka. Malaikat
akan hidup dengan cinta, kasih sayang,
memaafkan, rendah hati. Sedangkan setan akan
hidup dengan benci, dendam, prasangka, dan
kesombongan. Kembali kepada manusia itu
sendiri sisi mana yang ingin ia hidupkan.
Wallahua’lam.
sesuatu
mempunyai
dua kutub
berbeda.
Ada kanan
ada kiri. Ada
bawah ada
atas, ada
pintar ada
pula bodoh,
ada baik ada
buruk, ada
malaikat dan
ada pula
setan. Begitu
juga manusia, dalam dirinya manusia punya dua
sisi tersebut. Terkadang malaikat yang lebih
dominan, namun di lain waktu setanlah yang
menguasai.
Saat kita melihat seseorang dengan pakaian
compang-camping mengais sampah untuk
mencari nasi, hati ini tergugah untuk memberinya
makan makanan yang layak seperti yang kita
makan. Degan memberinya sepiring nasi
sepertinya kita sudah menjadi malaikat yang
telah menjadi penolong orang lain.
Di sisi lain saat ada seseorang berbuat kesalahan,
kita sulit sekali memaafkannya, menampakkan
muka angkuh di hadapannya, menyiratkan
pandangan kebencian terhadapnya, bahkan
menyapanyapun tidak mau. Tetapi saat itu kita
tidak merasa diri ini setan bukan?
Rasulullah mengajarkan “saat tangan kanan
memberi maka tangan kiri tidak boleh tahu”.
Tetapi apa yang kita lakukan? Saat tangan kanan
memberi, dengan sengaja ia mengundang
tangan kiri untuk mendampinginya. Apakah
manusia merasa dirinya setan dalam situasi
seperti ini?
Ada orang merasa dirinya besar jika ia mampu
pergi ke Tanah Suci. Berdoa dan didoakan
menjadi haji yang mabrur. Menunaikan haji dan
pulang membawa air zam-zam dan pernak-
perniknya, mengajak kumpul para tetangga dan
mengeluarkan banyak harta untuk disedekahkan.
Namun, ia berbangga dengan gelar hajinya, tidak
boleh orang memanggilnya “Bapak Fulan” tetapi
harus “Bapak Haji Fulan”. Orang-orang dibuat
bingung akan kehadiran Fulan ini. Haruskah ia
dipuji seperti malaikat ataukan dicaci seperti setan?
Manusia selalu merasa dirinya malaikat tetapi tidak
pernah merasa dirinya setan meskipun ia seorang
pembunuh, koruptor, perampok, ataupun
perampas hak-hak orang kecil. Topeng malaikat
terlalu kuat melekat dalam hati manusia sehingga
menyamarkan jatidirinya. Orang-orang tidak
dapat lagi membedakan yang mana malaikat dan
yang mana setan. Mereka memuji-muji sang
setan dan mencaci sang malaikat. Mengikuti yang
salah dan mengabaikan kebenaran sehingga
membentuk topeng-topeng malaikat baru dalam
jiwa-jiwanya.
Kita tidak pernah menyadari yang mana setan
dan yang mana malaikat dalam diri ini. Namun
yang harus kita sadari adalah mereka ada dalam
jiwa kita. Manusia itu sendirilah yang
menghidupkan salah satu dari mereka. Malaikat
akan hidup dengan cinta, kasih sayang,
memaafkan, rendah hati. Sedangkan setan akan
hidup dengan benci, dendam, prasangka, dan
kesombongan. Kembali kepada manusia itu
sendiri sisi mana yang ingin ia hidupkan.
Wallahua’lam.
demenan
Cinta
itu
tidak
buta
karena
tidak
bermata
dan
tidak
tuli
karena
tidak
bertelinga. Cinta itu pasif........dan akan aktif
tergantung cara manusia mengaktifkannya. Jika
cinta hinggap di mata manusia yang jauh dari
nilai islam, akan merubah mata itu menjadi mata
keranjang. Jika cinta hinggap di hati manusia
yang bersahabat dengan syetan, maka cinta akan
menjelma menjadi birahi.
Karenanya tak sedikit manusia yang menjadi
BUDAK NAFSU dan menjadi KORBAN CINTA.
Cinta yang hinggap pada manusia durjana akan
merubah cinta menjadi perantara zina.
Akibatnya segala yang dilakukan atas nama
cinta menjadi bentuk zina yang terang
terangan.
Akibat cinta zina ini maka menjamurlah perilaku
syetan yang jadi kebanggaan. Percampuran dan
berdua duaan menjadi hal yang lumrah. Media
cetak dan elektronik berlomba memanas manasi
agar manusia lebih mencintai NAFSU ketimbang
AKAL SEHAT.
Dipampanglah dada dan paha wanita agar semua
orang tahu bahwa disanalah adanya cinta. Yang
lebih mengerikan, muncul budaya pacaran yang
asalnya untuk saling mengenal, maka kini
berubah menjadi upaya saling melampiaskan
nafsu hewan. Jadilah manusia itu binatang,
bahkan lebih sesat dari binatang. Kondisi ini
nampaknya telah membudaya. Muda mudi hilir
mudik setiap malam minggu hanya untuk
melampiaskan NAFSU HEWANnya. (menyusul =
membongkar kedok oknum muslim/muslimah
dibalik perilaku pacaran)
Kata Pacar sendiri ternyata berasal dari nama
sejenis tanaman hias yang CEPAT LAYU dan
MUDAH DISEMAI kembali. Tanaman ini tidak
bernilai ekonomis (tidak ada harganya) sehingga
tidak diperjualbelikan. Hal ini sebagai simbol
bahwa pacaran adalah sebuah perilaku yang
MURAHAN. Jika sudah puas dengan pacarnya,
maka dia dipastikan akan mudah mencari atau
beralih kepada pacar barunya, ini adalah sebuah
ketetapan yang sangat susah dicari alasan
penolakannya.
Praktek pacaran saat ini merupakan pembenaran
pada perilaku seksual.Terbukti fenomena
kehamilan remaja dan praktek aborsi jumlahnya
sudah diambang toleransi. Berbagai riset baik
diluar maupun di dalam negeri telah
menunjukkan betapa eratnya hubungan remaja
dengan seks bebas. Ramonasari (1996:304)
mengungkapkan bahwa hampir 80 % remaja
melakukan seks bebas dengan pacarnya dalam
jangka waktu pacaran kurang dari 1 tahun.
Dalam berpacaran, syetan bisa berasal dari sang
laki laki atau pun perempuan. Pada laki laki syetan
meniupkan godaan dengan cara menggombal.
Sementara wanita menggoda dengan auratnya
atau dengan pakaian menantang, ketat ataupun
tembus pandang yang dikenakannya. Jadilah
keduanya MANUSIA BERMENTAL IBLIS yang
saling menggoda dan tebar pesona kemanapun
langkahnya.
Kita, bahkan adik adik kita pun akan merasa tidak
aman dengan keadaan demikian bahkan serasa
tidak berdaya untuk menggempur lajunya.
Keadaan negara dengan hukum yang seenaknya
dibuat lalu seenaknya dilanggar membuat
bencana ini makin menggila. Satu satunya jalan
adalah menerapkan hukum sempurna yang tak
satupun orang berani melanggarnya kecuali dia
akan di kepung oleh para pengawal hukum
tersebut yang notabene sekarang justru
dibelenggu oleh orang orang yang Naudzubillah
dalam Al Quran disifatkan dengan ORANG
MUNAFIK.
"Jika dikatakan kepada mereka, “Marilah kalian
(tunduk) pada hukum yang telah Allah turunkan
dan pada hukum Rasul,” niscaya kamu lihat
orang-orang munafiklah yang menghalangi
(manusia) dengan sekuat-kuatnya......." (QS an-
Nisa : 61-63)
Jika sudah jelas seperti itu, bagaimana nasib para
pemimpin negeri ini? anggota dewan negeri ini?,
atau mungkin ada dari pembaca situslakalaka
yang menemukan rujukan yang lebih sempurna
dari sinyal Allah diatas ? Wahai para praktisi
muslim, cendekiawan muslim, buktikan kalau
kalian bukan cuma berakal. Indonesia pun masih
ada di bumi Allah sebagaimana negara negara
yang lain. Tidak takutkah kalian, tidak malu kah
kalian? Jika kalian merasa keberatan dengan
hukum itu, CARILAH BUMI LAIN SELAIN
BUMI ALLAH !!!!!!!
itu
tidak
buta
karena
tidak
bermata
dan
tidak
tuli
karena
tidak
bertelinga. Cinta itu pasif........dan akan aktif
tergantung cara manusia mengaktifkannya. Jika
cinta hinggap di mata manusia yang jauh dari
nilai islam, akan merubah mata itu menjadi mata
keranjang. Jika cinta hinggap di hati manusia
yang bersahabat dengan syetan, maka cinta akan
menjelma menjadi birahi.
Karenanya tak sedikit manusia yang menjadi
BUDAK NAFSU dan menjadi KORBAN CINTA.
Cinta yang hinggap pada manusia durjana akan
merubah cinta menjadi perantara zina.
Akibatnya segala yang dilakukan atas nama
cinta menjadi bentuk zina yang terang
terangan.
Akibat cinta zina ini maka menjamurlah perilaku
syetan yang jadi kebanggaan. Percampuran dan
berdua duaan menjadi hal yang lumrah. Media
cetak dan elektronik berlomba memanas manasi
agar manusia lebih mencintai NAFSU ketimbang
AKAL SEHAT.
Dipampanglah dada dan paha wanita agar semua
orang tahu bahwa disanalah adanya cinta. Yang
lebih mengerikan, muncul budaya pacaran yang
asalnya untuk saling mengenal, maka kini
berubah menjadi upaya saling melampiaskan
nafsu hewan. Jadilah manusia itu binatang,
bahkan lebih sesat dari binatang. Kondisi ini
nampaknya telah membudaya. Muda mudi hilir
mudik setiap malam minggu hanya untuk
melampiaskan NAFSU HEWANnya. (menyusul =
membongkar kedok oknum muslim/muslimah
dibalik perilaku pacaran)
Kata Pacar sendiri ternyata berasal dari nama
sejenis tanaman hias yang CEPAT LAYU dan
MUDAH DISEMAI kembali. Tanaman ini tidak
bernilai ekonomis (tidak ada harganya) sehingga
tidak diperjualbelikan. Hal ini sebagai simbol
bahwa pacaran adalah sebuah perilaku yang
MURAHAN. Jika sudah puas dengan pacarnya,
maka dia dipastikan akan mudah mencari atau
beralih kepada pacar barunya, ini adalah sebuah
ketetapan yang sangat susah dicari alasan
penolakannya.
Praktek pacaran saat ini merupakan pembenaran
pada perilaku seksual.Terbukti fenomena
kehamilan remaja dan praktek aborsi jumlahnya
sudah diambang toleransi. Berbagai riset baik
diluar maupun di dalam negeri telah
menunjukkan betapa eratnya hubungan remaja
dengan seks bebas. Ramonasari (1996:304)
mengungkapkan bahwa hampir 80 % remaja
melakukan seks bebas dengan pacarnya dalam
jangka waktu pacaran kurang dari 1 tahun.
Dalam berpacaran, syetan bisa berasal dari sang
laki laki atau pun perempuan. Pada laki laki syetan
meniupkan godaan dengan cara menggombal.
Sementara wanita menggoda dengan auratnya
atau dengan pakaian menantang, ketat ataupun
tembus pandang yang dikenakannya. Jadilah
keduanya MANUSIA BERMENTAL IBLIS yang
saling menggoda dan tebar pesona kemanapun
langkahnya.
Kita, bahkan adik adik kita pun akan merasa tidak
aman dengan keadaan demikian bahkan serasa
tidak berdaya untuk menggempur lajunya.
Keadaan negara dengan hukum yang seenaknya
dibuat lalu seenaknya dilanggar membuat
bencana ini makin menggila. Satu satunya jalan
adalah menerapkan hukum sempurna yang tak
satupun orang berani melanggarnya kecuali dia
akan di kepung oleh para pengawal hukum
tersebut yang notabene sekarang justru
dibelenggu oleh orang orang yang Naudzubillah
dalam Al Quran disifatkan dengan ORANG
MUNAFIK.
"Jika dikatakan kepada mereka, “Marilah kalian
(tunduk) pada hukum yang telah Allah turunkan
dan pada hukum Rasul,” niscaya kamu lihat
orang-orang munafiklah yang menghalangi
(manusia) dengan sekuat-kuatnya......." (QS an-
Nisa : 61-63)
Jika sudah jelas seperti itu, bagaimana nasib para
pemimpin negeri ini? anggota dewan negeri ini?,
atau mungkin ada dari pembaca situslakalaka
yang menemukan rujukan yang lebih sempurna
dari sinyal Allah diatas ? Wahai para praktisi
muslim, cendekiawan muslim, buktikan kalau
kalian bukan cuma berakal. Indonesia pun masih
ada di bumi Allah sebagaimana negara negara
yang lain. Tidak takutkah kalian, tidak malu kah
kalian? Jika kalian merasa keberatan dengan
hukum itu, CARILAH BUMI LAIN SELAIN
BUMI ALLAH !!!!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)